You are here
Home > Info > Hukum Pinjam Meminjam dalam Islam yang Diterapkan dalam Bermasyarakat

Hukum Pinjam Meminjam dalam Islam yang Diterapkan dalam Bermasyarakat

pinjam meminjam dalam islam

Di dalam kehidupan bermasyarakat pastinya ada keadaan dimana beberapa orang memiliki kelebihan dalam bidang materi dan beberapa lainnya memiliki kekurangan. Karenanya Islam mengajarkan dalam hukum dan perilaku nabi untuk saling tolong menolong termasuk di dalamnya adalah pinjam meminjam. Pinjam meminjam dalam Islam sendiri memiliki hukum yaitu boleh atau mubah. Namun menjadi tidak boleh atau haram apabila maksud dari pinjam meminjam itu adalah untuk melakukan perbuatan maksiat atau melukai orang lain. Bukan hanya dalam bentuk uang, namun pinjam meminjam juga dapat dilakukan untuk benda atau alat.

Dalam Islam, pinjam meminjam merupakan salah satu bentuk dari tolong menolong yang merupakan kewajiban untuk sesama muslim dan seluruh anggota masyarakat. Namun agar tidak terjadi kerancuan dan kesalahpahaman maka Islam secara spesifik mengaturnya dengan harus adanya rukun pinjam meminjam sebagai berikut:

  • Mu’iir yaitu orang yang memberi pinjaman.
  • Musta’iir yaitu orang yang meminjam.
  • Musta’ar yaitu barang pinjaman.
  • Ijab qobul yaitu lafaz pinjam meminjam.

Sedangkan untuk ketentuan-ketentuan lainnya Islam mengaturnya dengan lebih rinci meliputi:

  • Ketentuan pemberi pinjaman:
  1. Meminjamkan dengan ikhlas.
  2. Barang yang dipinjamkan hendaknya dalam keadaan baik serta tidak mudah rusak.
  3. Tidak menarik riba atau keuntungan dari pinjam meminjam tersebut kecuali mengharap ridha Allah SWT.

pinjam meminjam dalam islam

  • Ketentuan bagi si peminjam:
  1. Bersedia mengembalikan barang pinjaman setelah tiba saatnya atau setelah barang tersebut digunakan.
  2. Menjaga barang tersebut dengan baik agar tidak rusak apalagi hilang.
  3. Selama barang ada di pihak peminjam maka barang menjadi tanggung jawab peminjam sehingga apabila terjadi kerusakan atau kehilangan maka peminjam wajib mengganti atau memperbaikinya.

Pinjam meminjam dalam Islam juga memiliki ketentuan yang harus dipenuhi untuk barang yang dipinjamkan yaitu:

  • Merupakan barang yang memiliki fungsi dan dapat bermanfaat.
  • Barang dalam keadaan baik.
  • Barang tersebut adalah barang halal dan milik pribadi yang meminjamkan.

Pinjam meminjam memiliki tujuan yang jelas yaitu sebagai bentuk tolong menolong antar sesama. Jelas diharamkan di dalamnya adanya riba atau pengambilan keuntungan atas dasar pinjam meminjam ini, apalagi jika sebelumnya sudah ada perjanjian tertulis misalnya si A meminjam uang sebesar Rp. 25.000 kepada si B kemudian setelah satu minggu harus mengembalikan sebesar Rp. 35.0000. Maka hal tersebut jelas mengandung unsur riba dimana semua pihak yang berkontribusi di dalamnya akan mendapatkan dosa.

Lalu bagaimana dengan pinjam meminjam saat ini? Banyak bank dan perusahaan pembiayaan modern ini memberikan pinjaman kepada masyarakat dengan sistem bunga yang jelas-jelas dilarang dalam Islam. Namun secara realistik saat ini siapa saja membutuhkan penghasilan apalagi bank dan perusahaan pembiayaan besar yang memiliki banyak karyawan sehingga bunga pinjaman bisa jadi merupakan laba perusahaan guna membayar semua kerja karyawannya. Namun agar Anda sebagai umat Islam tidak kebingungan dalam mengambil sikap.

Ada baiknya Anda menggunakan jasa perbankan syariah yang sudah memiliki logo halal dari MUI sehingga dapat disimpulkan sudah memenuhi syarat pinjam meminjam dalam Islam. Dengan menggunakan perbankan syariah maka Anda akan terbebas dari rasa bingung yang sering mengantuk ketika ingin menggunakan jasa perbankan namun takut apabila termasuk dalam kegiatan dosa karena didalamnya mengandung sistem riba tersebut. Selain dalam dunia perbankan, Anda juga harus menanamkannya pada kehidupan bermasyarakat apabila tetangga atau sanak saudara sedang dalam keadaan membutuhkan dan Anda mampu memberikan pinjaman.

 

Leave a Reply

Top